You are currently browsing the monthly archive for April 2008.

Aneh. Satu kata yang selalu terngiang di kepalaku saat berangkat menuju kantor. Ya, aneh. Siapa yang datang secara tiba-tiba dan pergi tanpa diketahui.

Kulalui pagi hingga sore tanpa pernah ku ingat lagi peristiwa kemarin. Sesampainya di kampus, aku langsung menuju kelas dan mengikuti kuliah sesi pertama. Ternyata aku dapet kursi disebelah Milly. Kudengar dia bernyanyi samar, “Kau cantik hari ini, dan aku suka.. Kau lain sekali, dan aku suka..”.

“Lagunya siapa, Mil?” tanyaku.

“Lobow: Kau cantik hari ini” jawabnya santai.

“Oo.. Enak juga.”

“Minta mp3nya dong?” pintaku cuek.

“Huu… Sukanya, mbajak!!!”

“Beli CD-nya dong!!” candanya manja.

“Hehe.. Iya besok klo dah gajian aku beli” balasku.

“Traktir skalian ya?”

Anak ini, malah ngelunjak. Aku pelototi saja dia, dia malah tertawa cekikikan. Tawa itu berhenti mendadak karena Milly ditegur dosen. Gantian aku yang cekikikan, Milly tersenyum kecut.

Sesi pertama selesai, ah perutku lapar!!! Langsung saja ku cari warung makan didepan kampus. Setelah aku dan teman-teman memesan makanan, aku iseng ngobrol dengan penjualnya yang sambil menyiapkan pesanan kami.

“Wah sekarang kok jadi mahal semua ya mas?” aku memulai percakapan.

“Iya nih mas. Kemaren klo pake minyak tanah, masih bisa diatur. Sekarang minyak tanah susah, katanya pak mentri apa sapa tuh, disuruh pak gas sekarang gitu”.

“Pemerintah mas?” aku coba mengoreksi.

“He-eh, sapa kek sama aja. Kita-kita mah tetep susah”.

“Kok bisa mas?” aku ingin lebih tahu.

“Iya, kemaren katanya mau dikonversi ke gas, trus minyak tanah dikurangi sedikit2 dan janjinya pasokan gas akan selalu tersedia” jawab penjual makanan.

“Tapi nyatanya, minyak tanah entah kemana, beli gas jg ga ada!” lanjutnya.

“Lho iya to mas? Gas tabung besar jg ga ada?” aku jadi penasaran.

“Ya ada, tapi pedagang kayak kami ga mampu beli” jawabnya.

“Lha wong beli yang 3 kilo aja dah mikir-mikir, apalagi yang gede mas?”

“Klo mo naekin harga, ntar ga ada yang beli. Klo ga dinaekin, ga dapet uang. Trus anak-anak saya hidup dari mana?” lanjutnya.

Aku hanya diam. Diam tanpa bisa menjawab.

“Sudah mas, ga usah mikirin negara, negara aja ga mikirin kita”. Kata-kata itu hanya berlalu begitu saja dikepalaku.

Aku kembali ke mejaku.

“Ngobrolin apa sih, Dzik?” tanya Faiz.

“Iya, kok kayanya seru banget?” Milly menimpali.

“Ga, iseng aja. Pengen kenal aja ma penjualnya” jawabku.

Selesai makan, aku kembali ke kampus. Di tengah jalan ku lihat Bunga sedang duduk dan tampak murung. “Ah, ni anak suntuk amat sih?” pikirku. Ku hampiri dia. “Heh, senyum dikit napa?” sapa ku sambil duduk disebelahnya.

Ku pikir dia akan bereaksi, ternyata malah diam. Lalu dengan tiba-tiba dia berkata “Dzik, punya waktu ga?”

“Ada, lagi ada masalah ya?” jawabku.

“Iya, tentang hubunganku ma Dave”

“Aku bingung banget… Kami dah cocok, kami dah berpikir serius, dan dia juga mulai bekerja supaya setelah lulus bisa siap semuanya” Bunga menumpahkan pikirannya.

“Trus masalahnya gimana?” aku bingung dengan masalah Bunga.

“Yang jadi masalah adalah mamanya Dave ga suka dia pacaran apalagi punya istri orang Jawa, hanya karena trauma adik mamanya yang nikah ma orang Jawa”.

“Nah ipar mamanya itu kelakuannya ga baik, sampe keluarganya sebel”.

“Saking sebelnya, Dave ga boleh cari jodoh orang Jawa. Kan ga logis. Ga semua orang Jawa seperti itu”

“Padahal orang tuaku menerima Dave apa adanya” Bunga bercerita dengan penuh emosi.

“Ok, Bung! Sabar Bung!” aku coba menenangkan.

“Bang-bung aja kmu! Aku ini cewek tau!” tiba-tiba Bunga sewot.

“Ya maap.. Namamu kan Bunga?” aku jadi bingung.

“Ya cowokmu itu gimana reaksinya ke mamanya?”

“Aku juga ga tau, dia ga bisa berbuat apa-apa, dia anak cowok satu-satunya dikeluarganya. Jadi bingung milih siapa”.

“Kmu dah minta dia coba ngomong ma mamanya?” tanyaku penuh selidik.

“Hehe.. Belum…” jawab Bunga sambil senyum.

“Yee.. Gimana sih? Ya dicoba dulu”.

“Aku pikir itu semua dah harga mati” jawab Bunga.

“Ya sekarang kalian coba perjuangkan ‘cinta’ kalian itu. Kan semuanya bisa dibicarakan baik-baik, apalagi keluargamu bisa terima Dave apa adanya. Jadi menunggu apalagi?” aku coba memberikan solusi.

“Yakinlah, klo niat kalian baik, pasti hasilnya juga baik” kataku sok bijak.

“Iya aku coba yakinin Dave buat ngomong lagi ma mamanya. Klo ga bisa juga gimana?”.

“Ya kawin lari aja!!! Hehe…” jawabku asal.

“Yee…” Bunga sewot.

“Ga kok. Aku yakin si Dave orang yang baik, pasti mau ‘berjuang’. Ok?”

“Ok. Thanks ya dah bantu aku?”

“Ok”.

Setelah sesi kedua selesai, aku langsung pulang ke kos. Setelah selesai mandi, aku duduk merenung sambil memainkan gitar kesayangaanku. Aku bingung, kenapa aku yang tidak tahu apa-apa ini, bisa diminta nasihat tentang cinta. Padahal, punya pacar saja tidak, apalagi mikir nikah. Ah, ingin rasanya aku merasakan perasaan itu juga. Kira-kira siapa ya yang mau berjuang ma aku? Ah, bermimpi saja aku ini.

“Langit Jogja suram” batinku. Kuterus saja membelah jalanan Jogja yang sudah nampak menjadi ‘Jakarta kecil’. Dikanan-kiri nampak angkutan kota yang amburadul. Puoooonnggg… Kyaa.. Kyaa… Suara bus dan kernetnya memutus lamunanku di perempatan Mirota Kampus, “Bajigur!!” umpatku. “Dasar sopir bus ga punya otak!!” aku lanjut mengumpat. Tapi klo dipikir-pikir, klo si supir bus pintar, maka dia lebih milih jadi karyawan kantoran sepertiku daripada jadi supir bus. “Ah, dijaman susah gini, masih bisa bertahan aja dah syukur”. Lampu lalu lintas berganti menjadi hijau, aku melanjutkan perjalanan lalu berbelok ke kiri ke Gedung MIPA selatan, akrab disebut Milan, untuk kuliah. Ya, aku adalah mahasiswa Ekstensi Ilmu Komputer UGM dan aku bekerja sebagai programmer. Suatu kebanggan tersendiri bisa kuliah dengan biaya sendiri di universitas yang terkenal ‘mahal’ di Jogja.

Setelah menyapa teman-teman, aku langsung lari ke mushola memuja-Nya. Berdoa sebanyak yang aku bisa an bersiap menerima kuliah. Iseng, kulihat ke papan pengumuman,

KULIAH ETIKA PROFESI

Dosen : Hasan Basri, PhD

Jam ke : 9, 10, 11

KOSONG

Harap Maklum

“Ha??? Kosong lagi???” selorohku, “Biasa!! Kan dosen sibuk… Mana punya waktu buat mahasiswa kayak kita?” jawab Milly dari belakang. “Kamu ada acara ga Dzik?” tanya Milly, “ngga” jawabku datar sambil duduk lemas di kursi terdekat. “Ikut aku yuk?” ajak Milly, “Kita makan di warung depan”. Belum sempat aku menjawab, tanganku sudah ditarik paksa mengikuti kemauannya.

“Mukamu tuh lho, surem amat!!!” Milly memulai percakapan sambil menunggu pesanan diantar.

“Klo kmu kayak gitu terus, ntar ga ada yang mau ma kmu lho???” diiringi senyum kecut.

“Biarin, gawan bayi!!” balasku seenaknya.

“Aku ga ngotot harus punya pacar sekarang”.

“Nih, dari seseorang!” Milly lalu memberikan sepucuk surat dari dalam tasnya.

“Surat lagi!!!??”

“Iya,”

“Dari siapa sih Mil???”

“Ya ga tau! Akku cuma dititipin dan diminta jangan bilang dari siapa” jawab Milly membuat hati terus bertanya-tanya dari siapa ini, hari gini masih pake surat-suratan segala, mending klo sms atau email. Kuterus melihat surat itu tanpa terpikir untuk membukanya, “Ini yang ke lima” dalam hatiku.

“Heh!! Bengong aja!!!” Milly membuyarkan lamunanku “Ayam kmu dimakan ga? Klo ga doyan, aku aja yang makan. Laper berat!!!”. “Yee.. Nih cewek, cakep-cakep malah maruk!!” aku merebut piring berisi ayam bakar dari tangan Milly.

Sesampai di kos, kubuka surat yang tadi diberikan Milly.

Bintang malam katakan padanya

Aku ingin mengukir sinarmu dihatinya

Embun pagi katakan padanya

Biarku dekap bila dingin membelenggunya

Tahukah engkau wahai langit

Aku ingin bertemu membelai lembut wajahnya

Kupasang hiasan angkasa yang terindah

Hanya untuk dirinya

Lagu ini rindu ini kuciptakan hanya untuk bidadari hatiku

Tercipta walau hanya nada sederhana

Ijinkan kuungkap rasa dan kerinduan

Aku terdiam, terenyuh oleh kata-kata yang tertulis dalam guratan pena itu. Tapi tunggu dulu. Aku kenal rangkaian teks ini, ya, ini lirik Lagu Rindu milik Kerispatih, lagu yang beberapa waktu lalu sering dendangkan dalam hati waktu melamun sendirian. Siapa yang bisa tahu lagu ini aku suka? Aku bingung sendiri.

Kulihat handphoneku, 18.05, wah aku belum mandi dan sholat. Segera ku tunaikan kewajibanku.

Selesai membaca diktat-diktat kuliah, ku baca koran yang tadi kubeli dengan harga 1000 rupiah. Lumayan lah untuk menambah pengetahuan dari dunia luar.

Tok.. Tok…

“Kak Dzikra!” Agus, adik kosku, memanggil

“Ya?”

“Ada yang cari, kak”

“Siapa, Gus?”

“Gak tau, cewek tuh kak”

“Siapa ya kira-kira” tanyaku dalam hati sambil bertanya dalam hati.

Sampai diruang tamu, ternyata tidak ada siapa-siapa disana. Aku langsung bertanya pada Agus, “Ga ada siapa-siapa Gus?”. “Ada tadi kak,” Agus langsung ke ruang tamu. “Lho temen kak Dzikra ke mana?” Agus heran. “Ya mana saya tau?” jawabku. “Tadi kmu suruh tunggu tidak?”. “Iya, dia juga langsung duduk kok tadi” Jawab Agus sambil heran.”Orangnya seperti apa?”.”Orangnya tadi putih, tinggi, rambutnya panjang, cantik gitulah kak… wah saya bingung”. “Apalagi saya, sayakan tadi dikamar, dan teman saya ga ada yang rupanya seperti itu” jawabku.

“Kira-kira siapa ya yang tiba-tiba datang lalu menghilang begitu saja?” pikirku di dalam kamar.

Klik tertinggi

Blog Stats

  • 819 hits

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930