“Langit Jogja suram” batinku. Kuterus saja membelah jalanan Jogja yang sudah nampak menjadi ‘Jakarta kecil’. Dikanan-kiri nampak angkutan kota yang amburadul. Puoooonnggg… Kyaa.. Kyaa… Suara bus dan kernetnya memutus lamunanku di perempatan Mirota Kampus, “Bajigur!!” umpatku. “Dasar sopir bus ga punya otak!!” aku lanjut mengumpat. Tapi klo dipikir-pikir, klo si supir bus pintar, maka dia lebih milih jadi karyawan kantoran sepertiku daripada jadi supir bus. “Ah, dijaman susah gini, masih bisa bertahan aja dah syukur”. Lampu lalu lintas berganti menjadi hijau, aku melanjutkan perjalanan lalu berbelok ke kiri ke Gedung MIPA selatan, akrab disebut Milan, untuk kuliah. Ya, aku adalah mahasiswa Ekstensi Ilmu Komputer UGM dan aku bekerja sebagai programmer. Suatu kebanggan tersendiri bisa kuliah dengan biaya sendiri di universitas yang terkenal ‘mahal’ di Jogja.
Setelah menyapa teman-teman, aku langsung lari ke mushola memuja-Nya. Berdoa sebanyak yang aku bisa an bersiap menerima kuliah. Iseng, kulihat ke papan pengumuman,
KULIAH ETIKA PROFESI
Dosen : Hasan Basri, PhD
Jam ke : 9, 10, 11
KOSONG
Harap Maklum
“Ha??? Kosong lagi???” selorohku, “Biasa!! Kan dosen sibuk… Mana punya waktu buat mahasiswa kayak kita?” jawab Milly dari belakang. “Kamu ada acara ga Dzik?” tanya Milly, “ngga” jawabku datar sambil duduk lemas di kursi terdekat. “Ikut aku yuk?” ajak Milly, “Kita makan di warung depan”. Belum sempat aku menjawab, tanganku sudah ditarik paksa mengikuti kemauannya.
“Mukamu tuh lho, surem amat!!!” Milly memulai percakapan sambil menunggu pesanan diantar.
“Klo kmu kayak gitu terus, ntar ga ada yang mau ma kmu lho???” diiringi senyum kecut.
“Biarin, gawan bayi!!” balasku seenaknya.
“Aku ga ngotot harus punya pacar sekarang”.
“Nih, dari seseorang!” Milly lalu memberikan sepucuk surat dari dalam tasnya.
“Surat lagi!!!??”
“Iya,”
“Dari siapa sih Mil???”
“Ya ga tau! Akku cuma dititipin dan diminta jangan bilang dari siapa” jawab Milly membuat hati terus bertanya-tanya dari siapa ini, hari gini masih pake surat-suratan segala, mending klo sms atau email. Kuterus melihat surat itu tanpa terpikir untuk membukanya, “Ini yang ke lima” dalam hatiku.
“Heh!! Bengong aja!!!” Milly membuyarkan lamunanku “Ayam kmu dimakan ga? Klo ga doyan, aku aja yang makan. Laper berat!!!”. “Yee.. Nih cewek, cakep-cakep malah maruk!!” aku merebut piring berisi ayam bakar dari tangan Milly.
Sesampai di kos, kubuka surat yang tadi diberikan Milly.
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin mengukir sinarmu dihatinya
Embun pagi katakan padanya
Biarku dekap bila dingin membelenggunya
Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai lembut wajahnya
Kupasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu ini rindu ini kuciptakan hanya untuk bidadari hatiku
Tercipta walau hanya nada sederhana
Ijinkan kuungkap rasa dan kerinduan
Aku terdiam, terenyuh oleh kata-kata yang tertulis dalam guratan pena itu. Tapi tunggu dulu. Aku kenal rangkaian teks ini, ya, ini lirik Lagu Rindu milik Kerispatih, lagu yang beberapa waktu lalu sering dendangkan dalam hati waktu melamun sendirian. Siapa yang bisa tahu lagu ini aku suka? Aku bingung sendiri.
Kulihat handphoneku, 18.05, wah aku belum mandi dan sholat. Segera ku tunaikan kewajibanku.
Selesai membaca diktat-diktat kuliah, ku baca koran yang tadi kubeli dengan harga 1000 rupiah. Lumayan lah untuk menambah pengetahuan dari dunia luar.
Tok.. Tok…
“Kak Dzikra!” Agus, adik kosku, memanggil
“Ya?”
“Ada yang cari, kak”
“Siapa, Gus?”
“Gak tau, cewek tuh kak”
“Siapa ya kira-kira” tanyaku dalam hati sambil bertanya dalam hati.
Sampai diruang tamu, ternyata tidak ada siapa-siapa disana. Aku langsung bertanya pada Agus, “Ga ada siapa-siapa Gus?”. “Ada tadi kak,” Agus langsung ke ruang tamu. “Lho temen kak Dzikra ke mana?” Agus heran. “Ya mana saya tau?” jawabku. “Tadi kmu suruh tunggu tidak?”. “Iya, dia juga langsung duduk kok tadi” Jawab Agus sambil heran.”Orangnya seperti apa?”.”Orangnya tadi putih, tinggi, rambutnya panjang, cantik gitulah kak… wah saya bingung”. “Apalagi saya, sayakan tadi dikamar, dan teman saya ga ada yang rupanya seperti itu” jawabku.
“Kira-kira siapa ya yang tiba-tiba datang lalu menghilang begitu saja?” pikirku di dalam kamar.

13 comments
Comments feed for this article
April 5, 2008 at 10:10 am
aNTin
hmmm… narsis buanget….
emang semua cowok kaya’ gini ya?? -_-a
yah, tapi alurnya lumayan…..
April 5, 2008 at 10:11 am
Sawachika Eri
Beh…. temenmu ada yg cantik ya mon ??? Kenalin dunk wkkwkwkw….
Ini kisah nyata apa fiksi sih sbnrnya ???
sounds like, “too good to be true”
-_-a
April 5, 2008 at 10:20 am
ramonda
sebentar, ini FIKSI ya….
novel debutan dari ku
bab selanjutnya lagi dalam proses…
dukung ya?
April 5, 2008 at 10:30 am
add_
panjang banget mon… angguk angguk saja ahh aku
April 5, 2008 at 10:52 am
gue_bgt
malaikat kale…
bisa dipelmkan ga tuh novel??
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin mengukir sinarmu dihatinya
Embun pagi katakan padanya
Biarku dekap bila dingin membelenggunya
Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai lembut wajahnya
Kupasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu ini rindu ini kuciptakan hanya untuk bidadari hatiku
Tercipta walau hanya nada sederhana
Ijinkan kuungkap rasa dan kerinduan
“but cinta sejati hanya pantas kita persembahkan untuk Allah SWT saja”
April 5, 2008 at 11:08 am
alfred
Bagooosss………cuma itu pujian gw buat tulisan loe mond…..
Kritikan gw….tulisan loe DONNY banget, hahahahahhaha
Salam buat anak2 Kantor ya mond !
April 5, 2008 at 12:08 pm
mybrainsgrowell
semenjak kutinggal kau di jawa, laris juga kau. kekekek,,,
April 5, 2008 at 1:44 pm
mima ney Mond!!!!!
Wakakak…cerita sp tuh? jangan Narcis ah Mond….hehehehehe…ak yg byk penggemar jg biasa aj tuh…wakakakkaka
April 5, 2008 at 2:03 pm
mima ney Mond!!!!!
Wakakakak….cerita sp tuh? ojo Narcis Mond….ak aj yg banyak penggemar ga narcis ko…wakakakakkaka ( is it a part of narcism?)
April 8, 2008 at 10:32 am
paris
gadis cantik ??? putih?? rambutnya panjang ?? trus hilang???!!! …
waaa…, nie cerita horor apa roman sie mon ???…
@ Sawachika Eri : setuju … it’s too good to be true …
April 8, 2008 at 7:27 pm
"DAP"
Hmmmm bgs..bgs, terusin aja aku dukung kok. Tp jgn banyak2 ngumpatnya pembaca sepertiku gak rela calon novelis ky kamu sering ngumpat wlw cm crita fiksi. ok
Btw siapa cewe’ itu…Hiks…hiks…hiks…
April 22, 2008 at 7:38 am
yanworks
hehehehehe. FIKSI toh, pantesan.
Mikir juga waktu ada dosen namanya Hasan Basri PhD. Setahuku sih Hasan Basri tuh Menteri Negara Agraria jamannya Suharto.
Bagus lah mon, teruskan menulis.
Saran nih ya (diterima syukur gak diterima Awas ya. hehehe):
Nganu, menurutku dialognya kalo kebanyakan itu bikin bingung ya (ato aku aja yang agak …) mending diimbangi penjelasan dalam bentuk narasi.
Tapi bagus lah, teruskan nak.
Tanpa Lilin.
Yanz
October 16, 2008 at 4:44 pm
dzikra
nanti tampilkan tokoh laki2 nmanya dzikra ya??
anaknya ganteng, tinggi, rambut lurus ngga pnjng2 amat, ga terlalu putih.
jago basket, tapi tmen 1 timnya pecundang semua..
lanjutannya situ yang buat.keh??
dzieck